Produk - Raja Mindring


Bedcover

Artikel dari Grup WA

Artikel dari Grup WA


Notice: Undefined variable: url in /home/u778632819/public_html/plugins/content/spcomments/spcomments.php on line 91


Anak Bukan Milik Kita

ANAK KITA BUKAN MILIK KITA 

 

"Pokoknya kamu harus mondok. Abah dulu gak kesampaian mengenyam pendidikan di ponpes. Jadi abah mau, semua anak abah harus mondok melanjutkan cita-cita abah."

Sebuah ultimatum menghujam hati seorang anak yang baru lulus SD. Dilema melingkupinya, haruskah dia mendurhakai abahnya dengan menolak titahnya, atau haruskah dia menghempaskan mimpinya sendiri melanjutkan studi sesuai pilihan hati demi bakti pada orang tua sendiri? Ah dilema? Tidak. Dia bahkan tak boleh punya pilihan lain. Hanya satu. Mondok. Titik. Jiwanya pun merasa terbuang. Mungkin ini memang buat kebaikan nya sendiri, agar ilmu agamanya mumpuni. Tapi, kenapakah harus seotoriter ini tanpa membuka secuil pun ruang diskusi?

 

***"Mamah dan papah mau kamu kuliah di Fakultas Kedokteran. Mamah dan papah udah mempersiapkan kamu jadi dokter dari kecil. Mamah dan papah udah ngelesin kamu sana sini biar pinter dan bisa jadi dokter." Begitu awal dulu orang tua gadis ini menyuruhnya kuliah di fakultas kedokteran. Yang meski hatinya sama sekali tak menginginkan, tapi dia lakukan agar orang tuanya senang. Sampai akhirnya dia lulus dan melakukan hal yang mencengangkan. "Mah, ini ijazah sarjana kedokteran ku, ipk ku cumlaude, ini buat mamah. Aku udah nurutin perintah mamah buat kuliah di fakultas kedokteran. Tugasku udah selesai. Sekarang aku mau buka usaha sendiri. Aku mau mengejar mimpiku sendiri. Mamah gak berhak melarang." Mamahnya speechless. Anaknya memberinya anti klimaks yang membuatnya seperti tersambar petir se tersambar tersambarnya. Telak.

 

***"Buat apa sih dagang begituan. Bapak maunya, begitu lulus kamu harus daftar PNS. Jadi pegawai, jangan 'nganggur' (berwiraswasta) begitu. Bapak gak mau kamu kayak bapak yang penghasilannya gak jelas. Pokoknya kamu harus jadi PNS. Bapak udah kuliahin kamu mahal-mahal biar bisa kerja (kantoran)."Kali ini seorang yang baru lulus sarjana dilanda duka. Euforianya membuka usaha lenyap seketika menerima penolakan keras orang tuanya. Padahal semangat dan kreativitasnya membuka usaha benar-benar juara. Segala sesuatunya telah dia persiapkan dengan sempurna. Business plan, marketing plan, permodalan, hingga step by step memulai usaha sudah dipelajarinya. Tapi apa daya orang tua nya tak menaruh ridho padanya. Kandas.

 

***"Bunda gak rela kamu resign. Kamu kan lagi di puncak karier. Gajimu udah tembus puluhan juta tiap bulan. Sebuah prestasi luar biasa yang gak akan kamu dapatkan kalo cuma jadi ibu rumah tangga. Anakmu kan bisa dititipin di day care aja."Seorang ibu muda terisak di kesendirian. Dipandanginya seonggok ijazah Sarjana Teknik dari perguruan tinggi bonafid yang membuatnya berkesempatan meniti karir yang cemerlang luar biasa. Ijazah yang kini mengkhianatinya. Ijazah yang membuatnya harus meneguk rindu membersamai tumbuh kembang anaknya. Ijazah yang membuatnya terbelenggu melangkah berlawanan dengan kata hatinya.

 

***Allah kembali mengingatkan saya tentang hakikat seorang anak lewat obrolan sederhana dengan kolega. Anak kita bukan milik kita. YA. Dia memiliki fitrah lahirnya sendiri dari sang Pencipta.

Memaksa, mengatur semua segi kehidupannya, dan memaksakan keinginan kita sungguh bukanlah hal yang bijaksana. Contoh di atas adalah kisah nyata. Mungkin ada yang pernah menemui kisah yang sama, atau bahkan pernah merasakannya. Bahwa terkadang orang tua barangkali terlalu menyayangi anaknya. Ingin anaknya bahagia dan sejahtera menurut penilaiannya. Tapi tanpa diskusi dan interaksi dua arah antara anak dan orang tua, semua niat baik orang tua itu terasa bagai duri yang melukai hatinya, yang mematikan fitrah lahirnya, yang menumbuhkan bibit-bibit benci pada orang tuanya sendiri.

Kalo nurut sama orang tua pasti sukses hidupnya! Begitu yaa yang sering kita dengar di masyarakat kita yang tanpa sadar menjadi pembenaran keotoriteran orang tua. Tentu saja berbakti pada orang tua tentulah mendatangkan karunia. Karena bakti pada orang tua adalah perintah Allah dan RasulNya. Tapi sebagai orang tua, bukankah kita juga harus mempertimbangkan perasaan, keinginan, dan kemampuan anak kita? Maka pelajaran pertama yang perlu dikuasai oleh orang tua adalah tentang kemampuan melepaskan.

Melepas anak untuk bertumbuh dan berkembang sesuai fitrahnya. Melepas anak untuk tumbuh sesuai potensinya. Melepas anak melakukan hal yang disukainya (selama tidak bertentangan dengan syariat). Melepas anak untuk meraih mimpinya dan cita-citanya. Berapa banyak santri yang terpaksa mondok justru akhlak dan ilmu agamanya bobrok?Berapa banyak mahasiswa yang tak sepenuh hati menjiwai studinya sendiri?

 

Berapa banyak pegawai yang benci dengan rutinitasnya sendiri?Adalah kita sering lupa bahwa anak berhak memiliki mimpinya sendiri. Adalah kita sering lupa bahwa anak membawa fitrah lahirnya sendiri-sendiri. Adalah kita sering merasa anak adalah robot-robot yang bisa dikendalikan sesuka hati. Alih-alih menerbangkan sayapnya terbang tinggi menembus langit cakrawala, kita justru mematahkan sayapnya tak kira-kira. Memaksa mereka tunduk mengikuti arahan kita. Menerjunbebaskan kepercayaan diri mereka sendiri terhadap kemampuan dan minat bakatnya. Mengubur impian mereka sedalam-dalamnya.

 

Padahal tugas orang tua sebenarnya sederhana, seperti yang dilakukan ayah Malala Yousafzai saat ditanya mengenai keberanian Malala, peraih nobel perdamaian termuda yang memperjuangkan hak perempuan untuk bersekolah. "Orang-orang bertanya apa yang saya lakukan sehingga Malala sangat berani dan lantang menyuarakan aspirasinya. SAYA TIDAK MEMATAHKAN SAYAPNYA."(Ziauddin Yousafzai)

 

Ah ibu, bapak, ayah, bunda, mamah, papah, ummi, abi tidakkah kau tauTIDAK ADA YANG LEBIH MENYAKITKAN BAGI SEORANG ANAK DARIPADA DIPATAHKAN IMPIANNYA OLEH ORANG TUANYA SENDIRI~Novika Amelia~

*ditulis untuk mengingatkan diri sendiri,

*silakan dishare jika bermanfaat, tidak diikhlaskan untuk dicopas

*gambar dari pinterest


Mengusung Tema Indonesia Kerja Bersama, Ini Logo HUT RI ke-72

Humas BKN, Pemerintah melalui Kementerian Sekretariat Negara secara resmi telah mengeluarkan Logo dan Tema perayaan 72 tahun Indonesia Merdeka. Kementerian Sekretariat Negara melalui surat edaran meminta para menteri, pimpinan lembaga negara, gubernur, bupati, dan wali kota untuk mensosialisasikan logo ini. Jadi, Pemerintah sudah mempunyai logo yang akan digunakan dalam Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia atau ke-72 pada Agustus mendatang. Logo kali ini menggunakan angka 72 dan kata-kata "Indonesia Kerja Bersama".

Secara resmi, softcopy tema dan logo Peringatan HUT ke-72 Kemerdekaan RI tahun 2017 ini dapat diunduh melalui situs resmi Kementerian Sekretariat Negara di setneg.go.id. Bersama dengan surat edaran itu, dijelaskan mengenai konsep dan makna logo ini.

Logo "72 Tahun Indonesia Kerja Bersama" menjadi representasi semangat gotong royong untuk membangun Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

Angka "7" pada logo menjadi simbol anak panah yang menyerong ke kanan atas. Ini melambangkan dinamisme pembangunan yang berorientasi ke masa depan positif.

Letak dan posisi angka "2" pada logo yang terlihat merangkul angka "7" lambang asas kebersamaan dalam bekerja membangun bangsa Indonesia dan mencapai target yang telah direncanakan.

Bentuk angka "2" juga merepresentasikan bentuk bendera Indonesia yang terdiri dari dua bagian. Sementara itu, slogan yang digunakan "Kerja Bersama, Bersama Kerja".

"Kerja bersama" menunjukkan pendekatan yang bersifat merangkul dan memperlihatkan asas kebersamaan dan gotong royong dalam membangun Indonesia menjadi lebih baik.

Sedangkan "Bersama kerja" menunjukkan ajakan untuk bersama-sama bekerja membangun kemajuan Indonesia dan mencapai target yang telah direncanakan.

Dikutip dari laman setneg.go.id, kebersamaan menjadi esensi tema yang diangkat sebagai semangat pada perayaan 72 tahun Indonesia Merdeka.

Masih pada laman tersebut, kebersamaan yang terdiri dari “Kerja Sama” dan “Gotong Royong”, adalah akar dari kebudayaan kita yang merupakan perwujudan harmoni kebersamaan yang telah menjadi perekat sosial paling efektif tanpa memandang ras, suku dan agama untuk mencapai tujuan yang luhur.
Dengan konfigurasi logo yang berbeda dari tahun lalu, logo perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini merupakan representasi dari semangat gotong royong untuk membangun Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

Kepada tim awak media kami, Kamis (13/7/2017), Kepala Bagian Hubungan Media dan Pengaduan masyarakat BKN Herman mengatakan logo dan tema perayaan 72 tahun Indonesia Merdeka, yakni Indonesia Kerja Bersama sudah dapat diunduh melalui laman setneg.go.id.
“Instansi dan masyarakat sudah dapat mengunduh logo dan tema perayaan 72 tahun Indonesia Merdeka melalui laman Kementerian Sekretariat Negara,” ujarnya.
“Sesuai himbauan dari Kementerian Sekretariat Negara, agar Logo dan Tema perayaan 72 tahun Indonesia Merdeka dapat digunakan sebagai branding rangkaian kegiatan Peringatan HUT ke-72 kemerdekaan Republik Indonesia,” tandasnya. Berry


Notice: Undefined variable: url in /home/u778632819/public_html/plugins/content/spcomments/spcomments.php on line 91


Surat Cinta

SURAT CINTA

Oleh WS Rendra

 

Kutulis surat inikala hujan gerimis

bagai bunyi tambur mainan

anak-anak peri dunia yang gaib.

Dan angin mendesahmengeluh dan mendesah

Wahai, Dik Narti,

aku cinta kepadamu!

Kutulis surat ini

kala langit menangis

dan dua ekor belibis

bercintaan dalam kolam

bagai dua anak nakal

jenaka dan manis

mengibaskan ekor

serta menggetarkan bulu-bulunya.

Wahai, Dik Narti,

kupinang kau menjadi istriku!

Laki-kaki hujan yang runcing

menyentuhkan ujungnya di bumi.

Kaki-kaki cinta yang tegas

bagai logam berat gemerlapan

menempuh ke muka

dan tak’kan kunjung diundurkan.

Selusin malaikat telah turun

di kala hujan gerimis.

Di muka kaca jendela

mereka berkaca dan mencuci rambutnya untuk ke pesta.

 

Wahai, Dik Narti,

dengan pakaian pengantin yang anggun

bung-bunga serta keris keramat

aku ingin membimbingmu ke altar

untuk dikawinkan.

Aku melamarmu.

Kau tahu dari dulu:

tiada lebih buruk dan tiada lebih baik daripada yang lain….

penyair dari kehidupan sehari-hari,

orang yang bermula dari kata kata yang bermula dari kehidupan,

pikir dan rasa.

Semangat kehidupan yang kuat

bagai berjuta-juta jarum alit

menusuki kulit langit:

kantong rejeki dan restu wingit.

Lalu tumpahlah gerimis.

Angin dan cinta

mendesah dalam gerimis.

Semangat cintaku yang kuat

bagai seribu tangan gaib

menyebarkan seribu jarring

menyergap hatimu

yang selalu tersenyum padaku.

Engkau adalah putri duyung

tawananku.

Putri duyung dengan suara merdu lembutbagai 

angin laut,mendesahlah bagiku!

Angin mendesah

selalu mendesah

dengan ratapnya yang merdu.

Engkau adalah putri duyung

tergolek lemas

mengejap-ngejapkan matanya yang indah

dalam jaringku.

 

Wahai, Putri Duyung,

aku menjaringmu

aku melamarmu

Kutulis surat ini

kala hujan gerimis

karena langit

gadis manja dan manis

menangis minta mainan.

Dua anak lelaki nakal bersenda gurau dalam selokan

dan langit iri melihatnya.

Wahai, Dik Narti,

kuingin dikau

menjadi ibu anak-anakku!

 

sumber: sastrabanget.com


Notice: Undefined variable: url in /home/u778632819/public_html/plugins/content/spcomments/spcomments.php on line 91


SAJAK PUTIH

SAJAK PUTIH (Chairil Anwar)

 

Buat tunanganku Mirat

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…

Buat miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di
alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
Dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku…

sumber: sastrabanget.com

 


Notice: Undefined variable: url in /home/u778632819/public_html/plugins/content/spcomments/spcomments.php on line 91