Anak Bukan Milik Kita

Comments

ANAK KITA BUKAN MILIK KITA

"Pokoknya kamu harus mondok. Abah dulu gak kesampaian mengenyam pendidikan di ponpes. Jadi abah mau, semua anak abah harus mondok melanjutkan cita-cita abah."

Sebuah ultimatum menghujam hati seorang anak yang baru lulus SD. Dilema melingkupinya, haruskah dia mendurhakai abahnya dengan menolak titahnya, atau haruskah dia menghempaskan mimpinya sendiri melanjutkan studi sesuai pilihan hati demi bakti pada orang tua sendiri? Ah dilema? Tidak. Dia bahkan tak boleh punya pilihan lain. Hanya satu. Mondok. Titik. Jiwanya pun merasa terbuang. Mungkin ini memang buat kebaikan nya sendiri, agar ilmu agamanya mumpuni. Tapi, kenapakah harus seotoriter ini tanpa membuka secuil pun ruang diskusi?

***"Mamah dan papah mau kamu kuliah di Fakultas Kedokteran. Mamah dan papah udah mempersiapkan kamu jadi dokter dari kecil. Mamah dan papah udah ngelesin kamu sana sini biar pinter dan bisa jadi dokter." Begitu awal dulu orang tua gadis ini menyuruhnya kuliah di fakultas kedokteran. Yang meski hatinya sama sekali tak menginginkan, tapi dia lakukan agar orang tuanya senang. Sampai akhirnya dia lulus dan melakukan hal yang mencengangkan. "Mah, ini ijazah sarjana kedokteran ku, ipk ku cumlaude, ini buat mamah. Aku udah nurutin perintah mamah buat kuliah di fakultas kedokteran. Tugasku udah selesai. Sekarang aku mau buka usaha sendiri. Aku mau mengejar mimpiku sendiri. Mamah gak berhak melarang." Mamahnya speechless. Anaknya memberinya anti klimaks yang membuatnya seperti tersambar petir se tersambar tersambarnya. Telak.

***"Buat apa sih dagang begituan. Bapak maunya, begitu lulus kamu harus daftar PNS. Jadi pegawai, jangan 'nganggur' (berwiraswasta) begitu. Bapak gak mau kamu kayak bapak yang penghasilannya gak jelas. Pokoknya kamu harus jadi PNS. Bapak udah kuliahin kamu mahal-mahal biar bisa kerja (kantoran)."Kali ini seorang yang baru lulus sarjana dilanda duka. Euforianya membuka usaha lenyap seketika menerima penolakan keras orang tuanya. Padahal semangat dan kreativitasnya membuka usaha benar-benar juara. Segala sesuatunya telah dia persiapkan dengan sempurna. Business plan, marketing plan, permodalan, hingga step by step memulai usaha sudah dipelajarinya. Tapi apa daya orang tua nya tak menaruh ridho padanya. Kandas.

***"Bunda gak rela kamu resign. Kamu kan lagi di puncak karier. Gajimu udah tembus puluhan juta tiap bulan. Sebuah prestasi luar biasa yang gak akan kamu dapatkan kalo cuma jadi ibu rumah tangga. Anakmu kan bisa dititipin di day care aja."Seorang ibu muda terisak di kesendirian. Dipandanginya seonggok ijazah Sarjana Teknik dari perguruan tinggi bonafid yang membuatnya berkesempatan meniti karir yang cemerlang luar biasa. Ijazah yang kini mengkhianatinya. Ijazah yang membuatnya harus meneguk rindu membersamai tumbuh kembang anaknya. Ijazah yang membuatnya terbelenggu melangkah berlawanan dengan kata hatinya.

***Allah kembali mengingatkan saya tentang hakikat seorang anak lewat obrolan sederhana dengan kolega. Anak kita bukan milik kita. YA. Dia memiliki fitrah lahirnya sendiri dari sang Pencipta.

Memaksa, mengatur semua segi kehidupannya, dan memaksakan keinginan kita sungguh bukanlah hal yang bijaksana. Contoh di atas adalah kisah nyata. Mungkin ada yang pernah menemui kisah yang sama, atau bahkan pernah merasakannya. Bahwa terkadang orang tua barangkali terlalu menyayangi anaknya. Ingin anaknya bahagia dan sejahtera menurut penilaiannya. Tapi tanpa diskusi dan interaksi dua arah antara anak dan orang tua, semua niat baik orang tua itu terasa bagai duri yang melukai hatinya, yang mematikan fitrah lahirnya, yang menumbuhkan bibit-bibit benci pada orang tuanya sendiri.

Kalo nurut sama orang tua pasti sukses hidupnya! Begitu yaa yang sering kita dengar di masyarakat kita yang tanpa sadar menjadi pembenaran keotoriteran orang tua. Tentu saja berbakti pada orang tua tentulah mendatangkan karunia. Karena bakti pada orang tua adalah perintah Allah dan RasulNya. Tapi sebagai orang tua, bukankah kita juga harus mempertimbangkan perasaan, keinginan, dan kemampuan anak kita? Maka pelajaran pertama yang perlu dikuasai oleh orang tua adalah tentang kemampuan melepaskan.

Melepas anak untuk bertumbuh dan berkembang sesuai fitrahnya. Melepas anak untuk tumbuh sesuai potensinya. Melepas anak melakukan hal yang disukainya (selama tidak bertentangan dengan syariat). Melepas anak untuk meraih mimpinya dan cita-citanya. Berapa banyak santri yang terpaksa mondok justru akhlak dan ilmu agamanya bobrok?Berapa banyak mahasiswa yang tak sepenuh hati menjiwai studinya sendiri?

Berapa banyak pegawai yang benci dengan rutinitasnya sendiri?Adalah kita sering lupa bahwa anak berhak memiliki mimpinya sendiri. Adalah kita sering lupa bahwa anak membawa fitrah lahirnya sendiri-sendiri. Adalah kita sering merasa anak adalah robot-robot yang bisa dikendalikan sesuka hati. Alih-alih menerbangkan sayapnya terbang tinggi menembus langit cakrawala, kita justru mematahkan sayapnya tak kira-kira. Memaksa mereka tunduk mengikuti arahan kita. Menerjunbebaskan kepercayaan diri mereka sendiri terhadap kemampuan dan minat bakatnya. Mengubur impian mereka sedalam-dalamnya.

Padahal tugas orang tua sebenarnya sederhana, seperti yang dilakukan ayah Malala Yousafzai saat ditanya mengenai keberanian Malala, peraih nobel perdamaian termuda yang memperjuangkan hak perempuan untuk bersekolah. "Orang-orang bertanya apa yang saya lakukan sehingga Malala sangat berani dan lantang menyuarakan aspirasinya. SAYA TIDAK MEMATAHKAN SAYAPNYA."(Ziauddin Yousafzai)

Ah ibu, bapak, ayah, bunda, mamah, papah, ummi, abi tidakkah kau tau TIDAK ADA YANG LEBIH MENYAKITKAN BAGI SEORANG ANAK DARIPADA DIPATAHKAN IMPIANNYA OLEH ORANG TUANYA SENDIRI~Novika Amelia~

*ditulis untuk mengingatkan diri sendiri,

*silakan dishare jika bermanfaat, tidak diikhlaskan untuk dicopas

*gambar dari pinterest

Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.